Sunday, 31 January 2016

Resep : Alpukat dan Kacang Merah Coklat

Disparitas harga antara pulau Kalimantan dan Jawa cukup tinggi. Khususnya untuk kebutuhan pangan. Sebagai contoh, kemarin saya membeli satu kilo buah Alpukat di kota Sampit dengan harga Rp. 35.000,- sementara di pulau Jawa harga satu kilo buah Alpukat hanya Rp. 17.000,-. Dua kali lipat, saudara. Oke saya mengerti hal ini  karena untuk sampai ke Kalimantan si buah alpukat harus melewati beberapa tangan dan menempuh perjalanan yang sangat jauh, sehingga hal ini berpengaruh pada harga buah tersebut. Baiklah. Lantas berapa harga buah Alpukat ini jika sampai di Papua? Rp. 50.000,-? Rp. 100.000,-? Saya kira hal ini adalah permasalahan yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah.
Baiklah, dengan harga Rp. 35.000,- saya mengalah demi buah Alpukat kesukaan saya.

Kemudian, saya membuat kacang merah. Siapa sih yang nggak suka kacang merah? Aapalagi es kacang merah? Coba angkat kaki yang nggak suka :p. Untuk memasak kacang merah ternyata ada trik-nya. Sebagai bocah ingusan, saya baru tau setelah sebelumnya gagal dan harus makan kacang merah yang keras bukan kepalang.


Well, sebelumnya kacang merah di rendam selama satu hari satu malam, kemudian di rebus hingga 2 jam. Setelah itu tambahkan gula secukupnya, karena saya anti mainstream jadi saya tambahkan coklat blok dan coklat bubuk. Maksud hati biar rasanya nyoklat banget.

Berikut step yang saya lakukan untuk membuatnya : 
1    1. Blender alpukat, sedikit air dan madu secukupnya.
2    2. Setelah itu pindahkan ke mangkuk

3    3. Tambahkan kacang merah masak diatasnya dan kalau suka bisa diberi susu coklat.

j    Resep ini saya gunakan untuk sarapan pagi. Hasilnya kenyang banget kalau dibanding saya harus minum jus buah aja. 


post signature

Sunday, 24 January 2016

Red Dragon and Banana For Sure

Apa maksud dari judul postingan kali ini? Nggak tau. Random.



Di negeri tempat saya tinggal a.k.a Sampit, sedang musim panen buah naga. Jadi, hampir di setiap sudut kota dipenuhi penjual buah naga. Harga yang relatif murah membuat saya tergiur untuk membelinya *tsah. Satu kilo buah naga dibandrol Rp.15.000,-. Cukup murah 'kan?

Aktivitas buruh kantoran seperti saya sudah tentu harus pintar-pintar jaga stamina. Kalo kata iklan Hemaviton nih, harus jreng jreng jreng!!! Makanya mood booster saya tiap pagi adalah smoothies atau jus buah segar.

Pertama kali saya minum jus buah naga, rasanya bener-bener bikin muntah. Rasa akar, tanah dan hambar jadi satu. Entah kenapa deh waktu itu rasanya aneh banget. Tapi setelah kejadian itu, saya malah penasaran, apa iya rasa buah naga seburuk itu. Akhirnya saya cobain lagi deh buah naga di tempat lain. Kok ya enak-enak aja tuh. Kayaknya saya salah tempat beli deh T.T


Demi jiwa dan raga yang sehat, belakangan menu jus pagi saya adalah loneliest red dragon alias jus buah naga doang. Sugar free dan less water. Supaya vitaminnya tetap utuh dan bisa diserap tubuh dengan baik. Tapi buah naga doang sih rasanya kurang manis, jadi resep favorit saya adalah Red dragon eats those sexy banana alias buah naga campur pisang. Buah naga itu paling ena ena banget kalo di mixed sama pisang. Rasa buah naga yang cenderung hambar ketutup sama manisnya buah pisang. Rasanya seger-seger bikin kenyang, karena tekstur buah pisang yang padat bikin perut kerasa ada isinya *ya kurang lebih begitu*

Penasaran? Coba rasain sendiri deh...

NB : Mohon maafkan grammar yang cukup buruk dimata Anda.


post signature

Trik Sarapan Buah




Kerja di bagian operasional menuntut saya untuk datang tepat waktu. Harus selalu siaga dan melayani dengan senyum, melayani dengan hati. Orang-orang operasional pasti udah pahamlah gimana jobdesk dan apa aja halangan rintangan yang menerjang. Senyum, sapa dan santun udah jadi motto hidup. Apapun yang terjadi dengan diri kita, ya kita harus tetap melayani dengan maksimal.

Pagi ini, saya lagi kaya. Jadi sarapannya makan buah mahal. Di Sampit, harga buah anggur mencapai Rp. 85.000,- per kilo dan buah kelengkeng seharga Rp. 35.000,- per kilo. Kalo saya hidup hedon terus, gaji cuman cukup untuk makan seminggu doang. Jadi, berhematlah saya dengan makan buah mahal hanya di hari-hari tertentu aja *edisi curhat colongan*.

Trik yang sesungguhnya biar tetap sehat tapi nggak melarat adalah : 
Makanlah buah yang lagi panen-panennya. Jangan nyari buah yang langka bin pasti mahal. Misalnya, sekarang lagi panen buah mangga, beli aja buah mangga untuk sarapan atau beli buah yang pasti murah, misalnya pisang, jambu dan lain-lain. Supaya nggak bosen, beli buahnya nggak usah banyak-banyak, jadi tiap hari bisa gonta-ganti buah.

Untuk menjaga kesehatan, saya berusaha  mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran dengan teratur. Setiap paginya, saya rutin makan atau minum jus buah. Banyak yang takut kalau makan buah pagi-pagi itu bikin sakit perut. Lah saya yang aneh, kok malah takut sakit perut? Kalau sakit perut, pengen BAB, artinya pencernaan kita sedang bekerja, bahkan kalau bisa BAB tiap pagi, indikasinya pencernaan kita baik. Ya jangan takut dong! Malah bagus!

Sarapan yang baik adalah sarapan buah-buahan segar karena sifat buah yang ringan dan mengandung banyak air dapat membantu melancarkan pencernaan. Lagipula, perut kita pada pagi hari dalam kondisi kosong dan baru bangun dari tidur panjang. Kalau diisi makanan berat secara langsung, efeknya, perut akan terasa berat dan penuh.

Banyak efek baik dari konsumsi buah di pagi hari. Buku-buku kesehatan banyak sekali yang menguak tentang kebaikan buah dan kebaikan mantan dimasa lalu. Salah satunya yang bisa diarasakan adalah daya tahan tubuh yang lebih kuat dibanding teman-teman yang tidak mengkonsumsi buah dengan baik. Contohnya aja, temen sekantor, yang duduknya persis disamping saya sedang flu. Kabar baiknya, saya sama sekali nggak terjangkit. Malahan teman saya yang duduknya beda 2 meja dengannya yang justru terjangkit hehehe.

Udah pernah nyoba makan buah di pagi hari? Coba deh...

post signature

Sunday, 25 October 2015

Rumpik' : Kuliner Kontemporer, Inovasi atau Kelatahan?

Menanggapi tulisan mas Eja Reza Fiqih Nurzaman (biar keliatan akrab, panggil aja Eja) yang diberi judul Kuliner Kontemporer, Inovasi atau Kelatahan? .

Sumber : Gastronomad Id 
Berdasarkan kata yang di populerkan oleh Mas Eja tersebut diatas, saya tergelitik banget untuk menanggapi alias saking miskin ide untuk blogging.

Nowadays, dunia kuliner sedang menjadi primadona. Banyak diperbincangkan baik secara lisan maupun tulisan, audio ataupun visual. Instagram menjadi panggung untuk mempertontonkan berbagai macam varian kuliner masa kini. Entah itu sebagai media promosi atau statement, hey gue udah makan ini lho, gue orang pertama yang nyobain ini lho, gue hits kan atau hidup gue oke kaaaan.

Dunia kuliner memang nggak ada matinya. Untuk bertahan didunia ini memang butuh inovasi, keuletan dan kejelian dalam melihat sebuah peluang. Tahun-tahun belakangan, banyak bermunculan makanan-makanan dengan inovasi yang saya anggap oke punya hingga semakin kesini semakin basi punya. Kenapa? Semacam sudah tau syarat dan ketentuan yang berlaku untuk menjadi hits dan eksis. Makanan yang hits, enak dan modern adalah makanan yang dibumbui dengan rasa Red Velvet, Oreo, Nutella, Green tea dan kawan-kawan. Saya sepakat sama Mas Eja, seakan kalau dibubuhi perasa tersebut praktis makanan yang dijual akan hits dan menggelegar. Mengutip tulisan Mas Eja ;
Alih-alih menawarkan makanan yang berbeda mereka hanya menampilkan makanan yang sama, namun dengan kemasan yang berbeda.
Sepakat Mas Eja! Hala Mas Eja! #eh. Tanpa saya sebut namanya, you know lah makanan apa saja itu yang dijual dengan bumbu hits, jangankan tertarik untuk mencoba, rasanya aja saya udah apal banget. Semacam, "oke aku udah tau rasanya, so ngapain musti beli?" Saya pribadi sama sekali nggak punya ketertarikan untuk beli makanan itu. Jadinya apa? Alih-alih mereka menghadirkan inovasi baru untuk menarik pembeli, justru dengan hal itu lama kelamaan masyarakat akan jenuh dan bosan. Hasilnya apa? Noone cares with those green tea, red velvet, or anything else about that. Mereka hanya menciptakan bom waktu, kalau nggak sekarang ya paling beberapa waktu lagi rasa kekinian itu bakal hilang. *sok tau* 

Then, saya kurang sepakat sama Mas Eja, kalau jomblo musti dibubuhi green tea supaya laku. Bagi saya, jomblo biarlah memiliki khas nya sendiri layaknya kopi jos dan rujak es krim yang tanpa perlu tambahan perasa masih tetap di gandrungi masyarakat. Tetaplah menjadi jomblo dengan keunikan sendiri tetapi ada yang akan mencintai sepanjang masa daripada green tea yang banyak pecinta tapi hubungannya hanya sebentar. *ditampar*

Mengenai munculnya Es Krim Kuburan Mantan, Coklat Enteng Jodoh. Bener kata Mas Eja, ini namamya eksploitasi. Mantan tetaplah jadi mantan, biar gimanapun dia pernah menjadi satu-satunya orang yang kita cari pertama kali saat bangun tidur, orang yang pernah kita lap-in keringatnya, suapin makannya dan elus elus rambutnya. Sabar ya ntan... *ini kesurupan Mas Eja*

Apakah ini trend semata atau berkelanjutan?
Hendaknya jadilah seperti saparella dan rujak es krim yang rasanya otentik dan melegenda.
Mungkin kita harus definisikan dulu kata dari makanan, inovasi dan latah. 




Jadi, kuliner kontemporer merupakan inovasi atau kelatahan?
Mungkin, inovasi hanya berlaku pada ide yang muncul pertama kali. Selanjutnya hanya-kelatahan-saja.

Sepakat pula dengan Mas Adit,
Kalau arah, kuliner kontemporer terus seperti ini. Sepertinya saya lebih tertarik dengan Molecular Gastronomy – Adhityo Wicaksono, Food Blogger.