Cinta Nominal dan Sop Puyuh

Apakah cinta harus dilambangkan dengan bentuk hati? Benarkah? Tidak bisa kah kisah cinta dilambangkan dengan nominal dalam buku tabungan da...

Apakah cinta harus dilambangkan dengan bentuk hati? Benarkah? Tidak bisa kah kisah cinta dilambangkan dengan nominal dalam buku tabungan dan aset masa depan?

Halo? Kenapa mengernyitkan dahi? Kamu heran membaca pernyataanku diatas? Mengapa? Apakah terlalu matrealistis? :)

Abad ke 20 merupakan masa dimana dunia mengalami modernisasi, liberalisasi dan globalisasi. Wajah dunia mulai berubah. Semua bidang mengalami perubahan dan pergeseran. Dunia Internasional bahkan tidak lagi hanya fokus kepada gerakan anti perang saja, melainkan juga lebih peduli pada Hak Asasi Manusia, lingkungan, pendidikan, perdagangan dan kesehatan hingga munculnya paham-paham baru dalam dunia politik.

Modernisasi diawali dengan penemuan-penemuan alat elektonik hingga industrilisasi. Paham-paham dan mahzab-mahzab dunia internasional pun berkembang. Pun dengan pola pikir manusia terhadap masa depannya.

Mari kita memasuki inti dimana aku akan bertanya...

Di Indonesia, kisah cinta selalu saja identik dengan sebuah perjuangan yang panjang dan berliku. Pasangan menikah muda, kemudian bersama-sama bekerja keras untuk meraih masa depan yang mapan. Entah apapun yang terjadi, yang ada dipikiran mereka hanyalah, aku berjuang untuknya dan untuk cinta. Susah senang asal bersama-sama sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Namun, memasuki abad ke 21, terjadi perubahan sudut pandang, pun gaya hidup. Manusia semakin konsumtif, penuh gengsi dan materialistis. Hidup semakin penuh beban, sehingga membuat pandangan lebih realistis.

Jika dahulu, perempuan bersedia menerima pinangan lelakinya atas dasar cinta, maka kini terjadi pergeseran. Cinta kadang dimaknai dengan usaha keras untuk mengumpulkan pundi-pundi uang dan kemampuan untuk membangun "istana". Salahkah? Menurut ku tidak juga. Memang (akan) banyak orang yang mencibir perempuan matrealistis. Tetapi menurutku, sah-sah saja jika perempuan menerapkan standar dalam hidupnya. Agak heran, mengapa laki-laki begitu anti terhadap perempuan matrealistis? Apakah itu merupakan salah satu bentuk pernyataan atas ketakutan dan ketidak-mampu-an mereka dalam mencukupi kebutuhan ekonomi sang perempuan? Lantas, apakah wajar jika mereka melabeli hal yang negatif terhadap sesuatu yang sejatinya adalah bagian dari ketidakmampuan mereka sendiri?

Dengan adanya teknologi yang kian berkembang pesat, kini perempuan tidak lagi hanya menjadi tukang masak, tukang cuci, tukang rawat ataupun tukang jaga rumah. Perempuan masa kini sudah maju, pandai dan berprinsip. Iya, kini kami mandiri dan pandai. Kami sudah menyadari mana cinta dan mana masa depan. Maka, aku menikahimu karena masa depan, bukan lagi hanya cinta yang sesaat.

Bagaimana jika aku bertanya, Cinta bisa saja hilang dan tak pernah kembali, namun nominal didalam buku tabunganmu bisa hilang dan kau cari lagi. Jika saja cintamu hilang kepadaku, maka kemanakah aku harus mencarinya?


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apakah cinta harus selalu dilambangkan dengan bentuk hati? Menurutku tidak selalu. Bisa saja cinta dilambangkan dengan kemampuan seseorang untuk mencukupi kebutuhan hidup pasangannya.

Sop Puyuh 

Lagi-lagi karena masaknya spontan, jadi selalu lupa menakar bahan-bahan yang digunakan.
Bahan :
1 batang wortel
15 butir telur puyuh
50 gr Kincam
250 gr Brokoli
3 siung Bawang Putih
Merica secukupnya
Gula dan Garam secukupnya
Daun Bawang
Seledri
2 L air putih

Cara :
1. Seperti biasa, haluskan bawang putih, merica, gula dan garam.
2. Ikat/tali kincam. Buang bagian ujung kincam yang keras. Rendam.
3. Potong brokoli, wortel dan daun bawang. Rebus telur puyuh.
4. Lelehkan mentega, tambahkan bawang putih yang sudah dihaluskan dan daun bawang. Oseng hingga berwarna keemasan.
5. Tambahkan air putih. Masak hingga mendidih. Masukkan wortel dan kincam. Setelah itu masukkan brokoli dan telur puyuh yang sudah dikupas kulitnya. Tambahkan Seledri.
6. Angkat. Baiknya langsung disantap selagi masih hangat. Jangan lupa taburkan bawang goreng :)


You Might Also Like

0 komentar