Resep Telur Mata Gajah

Telur mata gajah adalah salah satu kuliner favorit di Kota Sampit. Aneh? Baru denger? Oh, kamu belum pernah ke kota Sampit? Nggak heran, kar...

Telur mata gajah adalah salah satu kuliner favorit di Kota Sampit. Aneh? Baru denger? Oh, kamu belum pernah ke kota Sampit? Nggak heran, karena aku juga belum pernah dengar ada telur mata gajah dijual di kota lain. :)


Telur mata gajah adalah semacam bakwan, tapi digoreng dicetakan kue lumpur dan diatasnya ditambahkan telur puyuh ceplok. Kalau suatu saat nanti kamu berkunjung ke kota Sampit, pergilah ke Taman Kota dan tentu saja cobalah kuliner satu ini.

Seperti yang terjadi sebelumnya, alasan saya memasak sebuah makanan adalah karena saya rindu akan makanan tersebut. Nah, telur mata gajah ini salah satunya. Kesibukan menulis skripsi dan mengejar kelulusan membuat saya enggan pulang ke kampung halaman. Bukan karena saya tidak merindukannya, tapi karena saya tau jika saya pulang maka saya akan sulit untuk meninggalkannya kembali. Daripada saya lulus tahun 2017 *amit-amit* dan kehilangan gairah untuk menulis skripsi, saya memilih untuk tetap disini dan menikmati kerinduan ini.

Tidak penting kenangan saya terhadap makanan satu ini, yang terpenting adalah bagaimana makanan ini bisa membuat semua orang merindukannya. Saya yakin 98% bahwa hampir seluruh Mahasiswa yang berasal dari Sampit dan bersekolah di luar kota pasti merindukan makanan ini. Bahkan jika dikirimi foto ini, mereka akan teriak, "AKU PENGEEEENNNN" dengan emoticon histeris. Saya juga bingung, kenapa makanan ini begitu mudah untuk dirindukan. Hipotesa saya *EA! hilang fokus* *akibat skripsi*, maksudnya, menurut pendapat saya, mungkin karena kami dibesarkan dengan makanan ini. Saya makan makanan ini sejak saya duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Setiap kali pergi ke Taman Kota untuk bermain, telur mata gajah selalu jadi idola.

Sekarang, di Sampit sudah lumayan banyak yang menjual telur mata gajah. Tapi, menurut saya, yang paling enak adalah telur mata gajah Amrozi *kalo nggak salah*. Telur mata gajah ini berdiri sejak tahun 2002 *berdiri sejak* *gak pegel kakinya*. Telur mata gajah langganan saya mulai dari saya kecil hingga setua ini. Orang lain mungkin heran, padahal hanya bakwan telur puyuh, kok pada suka sih. Tapi, saran saya, coba saja kamu mencicipi makanan satu ini.

Kembali ke topik, sebagai seorang anak kos yang gigih, saya selalu ingin mencoba dan terus mencoba. Jadilah saya pergi ke Progo dan melihat-lihat cetakan kue lumpur. Saya pun menemukan ini!



Senang sekali menemukannya. Tapi setelah di cek, harganya mahal banget. Harganya hampir sama dengan harga blender yang notabene selama ini adalah barang yang saya idam-idamkan hadir di dapur kos saya. Kalau nggak salah, harganya Rp. 224.000,-. Kurang lebih segitu lah. Karena saya nggak mampu untuk membelinya, saya pun berbelok arah ke tumpukan lainnya. Akhirnya saya menemukan cetakan ini dengan harga Rp. 47.000,-. Yaudah, pake yang ini aja dulu, nanti kalau sudah jago, baru beli yang bagus untuk masa depan.


Berkat kehadiran cetakan ini didapur saya, saya sudah melakukan dua kali percobaan. Yang pertama, adonan saya tambahkan telur. Tapi hasilnya terlalu cantik. Yang kedua, nggak pakebawang merah dan putih. Hampir miriplah rasanya.

Telur Mata Gajah


Bahan :
- 6 centong sayur kecil tepung terigu (atau 12 sdm tepung terigu)
- Air secukupnya hingga agak encer ya
- 1 butir telur
- Wortel secukupnya diiris korek api
- 1 batang daun bawang diiris tipis
- 5 siung bawang merah
- 3 siung bawang putih
- 1 sdt garam
- 15-18 butir telur puyuh

Cara :
1. Haluskan bawang merah dan bawang putih bersamaa dengan garam (salah satu trik agar bumbu cepat halus)
2. Campurkan telur, air dan terigu. Sebenernya sebuah resep nggak bisa dikatakan resep kalau data nggak akurat. Tapi saya khilaf, lupa nulis berapa takaran airnya, jadi, dikira-kira sendiri saja ya, yang pasti agak encer (berdasarkan pengamatan saya liat Pak Amrozi bikin telur mata gajahnya sih).
3. Tambahkan bumbu yang sudah dihaluskan ke dalam adonan tepung.
4. Tambahkan wortel dan daun bawang. Aduk rata.
5. Panaskan cetakan dan minyak goreng.
6. Masukkan adonan ke dalam cetakan secukupnya (setengah ukuran cetakan). Jangan terlalu banyak, nanti luber.
7. Tunggu hingga berwarna coklat emas, tambahkan telur puyuh. Balik adonan.
8. Angkat jika sudah berwarna kecoklatan.



Notes :
1. Kalau mau lebih enak, pake telur. Tapi kalo mau rasanya mirip sama kaya paman-paman, cukup pake air aja.
2. Kayaknya punya paman-paman di taman itu nggak pake bawang merah dan bawang putih, mereka cuma pake penyedap rasa, contoh : Royco, Masako. Soalnya lebih murah dan praktis.


You Might Also Like

5 komentar

  1. Namanya lucu ya, patut dicobain nih...
    btw, jgn pelit2 mbak buat peralatan dapur, itung2 investasi, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. wahhhh, thx mbak resepnya :D
    dulu sempat ada di palangka (saya tinggal disini), tapi sekarang gak pernah liat lagi dan lagi pengen bgt makannya. untunglah ketemu blog ini XD

    ReplyDelete