Belajar Bahasa Banjar Yuk!

Zaman dulu, merantau atau pergi ke daerah lain di anggap hal yang sangat jarang di lakukan. Sangat jarang masyarakat kota bertransmigrasi ke...

Zaman dulu, merantau atau pergi ke daerah lain di anggap hal yang sangat jarang di lakukan. Sangat jarang masyarakat kota bertransmigrasi ke daerah berkembang kecuali dalam masa tugas. Nah, zaman sekarang, kegiatan merantau ataupun hanya sekedar jalan-jalan ke daerah lain sudah menjadi hal yang biasa. Seiring dengan mudahnya alat transportasi, apalagi tarif pesawat sekarang sangat mudah untuk di jangkau, kegiatan melanglang buana ke daerah lain semakin marak di lakukan.

Selain jalan-jalan, merantau kadang kala menjadi hal yang harus di lakukan karena sudah menjadi tugas dari kantor untuk di tempatkan di daerah tertentu. Akan sangat mudah jika kita di tempatkan di daerah atau kota besar, tapi celakanya apabila kita di tempatkan di daerah berkembang dan kita nggak ngerti bahasa yang di gunakan di daerah setempat itu seperti apa. Bahasa memang terkadang menjadi kendala. Kesalah pahaman akibat nggak ngerti bahasa kadang membuat kita merasa nggak nyaman, atau nggak jarang pula kita di tipu ketika belanja di pasar. Nah lo... ribet ya.

Ngomong-ngomong mengenai bahasa dan daerah berkembang. Kini, seiring dengan banyaknya kegiatan pertambangan, dagang, dan pembangunan di daerah Kalimantan, semakin banyak pula pendatang dari luar Kalimantan. Pengalaman saya, untuk datang dan menetap di daerah baru, paling nggak kita harus tau bahasa apa yang di gunakan di daerah setempat. Sebagian besar masyarakat di Kalimantan (Kalimantan Tengah, Selatan dan Timur) menggunakan bahasa Banjar untuk berkomunikasi sehari-hari.. Bahasa Banjar berasal dari suku Banjar yang awal mula tinggalnya adalah di daerah Banjarmasin.

Nah, supaya nggak canggung ketika sampai di Kalimantan, yuk belajar dasar-dasar bahasa banjar dulu! Kita mulai dari dasar ya. Seperti belajar Bahasa Inggris, yang kita pelajari terlebih dahulu pasti kata ganti orang. Maka kita mulai dari situ ya... Oya, bahasa banjar juga memiliki tingkatan kata, seperti bahasa jawa. Mulai dari halus, setara, dan kasar :

  • Ulun x Pian = Saya x Anda, biasanya di gunakan ketika berbicara dengan orang yang kita hormati atau lebih tua,
  • Aku x Ikam = Aku x Kamu, biasanya di gunakan ketika berbicara dengan teman sebaya,
  • Unda x Nyawa = Aku x Kamu, tapi penggunaan bahasa ini cenderung kasar. Biasanya di gunakan oleh anak muda untuk berkomunikasi.
Selanjutnya, untuk kata ganti prang ketiga (dia) adalah :
  • Sidin = Beliau, sebagai kata ganti yang menunjukkan orang yang lebih tua
  • Inya = Dia, sebagai kata ganti menunjukkan orang ketiga yang sebaya. Biasanya di gunakan untuk menyebutkan mereka yang sebaya atau yang lebih muda.
Sudah selesai dengan kata ganti orang, mari kita menuju kepada panggilan seperti om, tante, ayah, kakek dan nenek, dalam bahasa banjar, yaitu :
  • Ayah = Abah
  • Ibu = Mamak
  • Nenek = Nini'
  • Kakek = Kai'
  • Tante = Acil / Julak
  • Paman = Amang
  • Keponakan = Kemenakan
  • Teman = Kawan
Segitu dulu ya, kata tersebut di atas bisa jadi modal standar untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Oya, kalau belanja di pasar, ibu-ibu yang jualan biasanya di panggil acil. Kalau bapak-bapak dipanggil amang. Kalau belanja, ngomongnya "Mang ulun handak nukar rokok, berapa haraganya?" artinya, pak saya mau beli rokok, berapa harganya?. Sebagai contoh aja, kata rokok bisa di ganti dengan barang yang mau di beli sesungguhnya loh ya hihihi.

Untuk pertama, kata-kata ini bisa menjadi dasar dalam berkomunikasi. Paling nggak, menyamarkan kalo kamu bukan orang asli sana, siapa tau nanti ketipu kalo belanja di pasar gara-gara nggak pake bahasa banjar. Next, kita belajar bahasa banjar yang di gunakan ketika belanja di pasar hingga proses tawar menawar ya. See you...

You Might Also Like

0 komentar