Hidup Itu Coklat Panasnya ?

Saat usia masih satu digit angka, banyak sekali mimpi. Salah satunya ingin sekali menjadi dewasa. Memasuki masa SMP, saat ego masih set...


Saat usia masih satu digit angka, banyak sekali mimpi. Salah satunya ingin sekali menjadi dewasa. Memasuki masa SMP, saat ego masih setinggi langit, merasa sudah besar, sudah dewasa, nggak mau diatur, kemudian muncul perasaan ingin sekali berada di jenjang SMA. Supaya kelihatan udah gede, udah bisa mandiri. Ketika SMA, sudah mulai berontak, mulai merasa jagoan dan mulai pengen segera kuliah, biar bisa hidup sendiri. Saat kuliah, semuanya berbalik. Mulai merasa sendiri, merasa butuh support, merasa hidup ini mulai berat hingga sampai pada masa pasca-kuliah.

Mulai mencari kerja, mengirimkan lamaran kesana kemari, menunggu panggilan, hingga akhirnya saya mendapatkan pekerjaan pertama. Well, jauh dari perkiraan. Malah justru sebenarnya saya paling takut kalau suatu saat saya harus menjajal posisi ini. Tapi takdir berkata lain. Rupanya saya harus. 

Karir. Satu hal yang selalu saya pusingkan. Masa depan dan karir. Bisakah saya meniti karir? Baik kah kemampuan saya dalam bekerja? Apa yang harus saya lakukan agar bisa naik jabatan? Atau sudah kah saya bisa bekerja dengan smart? Bahkan hingga posisi apakah yang pantas saya dapatkan? Bisakah saya menghasilkan banyak uang dan menjadi wanita muda yang kaya raya? Punya hidup sempurna, cantik, baik, cerdas, kaya raya, pacar mapan dan keluarga baik-baik saja? Bisakah saya?

Kalau boleh melihat tetangga sebelah. Memang, rumputnya nampak hijau selalu. Kadang bahkan saya iri kenapa rumput mereka bisa selalu hijau. Sementara rumput saya nggak hijau, berantakan pula. Kok bisa? Apakah kemampuan saya jauh sekali dibanding mereka? Atau takdir? Atau sayanya aja yang kurang usaha? Hal itu selalu berkecamuk di dalam pikiran saya. 

"Bisa nggak sih gue muda, bertalenta, cantik dan kaya di usia muda? Kayak mereka... Pengen liburan ke keliling dunia, beli barang tanpa liat harga, beli lipstik harga lima ratus ribu, beli heels harga jutaan, punya mobil mewah, handphone mahal, makanan mewah. Aih..." 

Tapi, setiap kali saya bangun pagi, saya menjajakkan kaki kembali di kantor, melihat rekan kerja yang begitu semangat dan positif, Puji Tuhan, saya bersyukur. Tuhan memberikan saya pekerjaan dan lingkungan kerja yang nyaman. Rekan kerja yang perhatian dan toleran. Mungkin ini yang harus saya syukuri. Diantara ambisi dan gengsi, saya harus bersyukur bahwa Tuhan memberikan lingkungan kerja yang nyaman. Maka saya berhenti untuk iri dan menemukan kalimat ini :

Life is the hot chocolate; your job, money and position in society are the cups.  They are just tools to hold and contain life.  The cup you have does not define, nor change the quality of life  you have.  Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the hot chocolate God has provided us.  God makes the hot chocolate, man chooses the cups. The happiest people don't have the best of everything.  They just make the best of everything that they have.  Live simply.  Love generously.  Care deeply. Speak kindly. Sumber : Kindspring

Kehidupan itu seperti coklat panas, pekerjaan, uang dan strata sosial adalah cangkirnya. Cangkir hanya sebagai penopang hidup, sama sekali nggak bisa menentukan kualitas hidup. Selama ini kita hanya fokus pada cangkirnya saja dan lupa untuk menikmati coklat panas. Iya, kita hanya peduli pada ambisi. Kita lupa untuk menikmati. Saya. Saya lupa untuk menikmati coklat panas saya. Padahal coklat panas saya begitu manis.

You Might Also Like

0 komentar