Rumpik' : Kuliner Kontemporer, Inovasi atau Kelatahan?

Menanggapi tulisan mas Eja Reza Fiqih Nurzaman (biar keliatan akrab, panggil aja Eja) yang diberi judul Kuliner Kontemporer, Inovasi atau ...

Menanggapi tulisan mas Eja Reza Fiqih Nurzaman (biar keliatan akrab, panggil aja Eja) yang diberi judul Kuliner Kontemporer, Inovasi atau Kelatahan? .

Sumber : Gastronomad Id 
Berdasarkan kata yang di populerkan oleh Mas Eja tersebut diatas, saya tergelitik banget untuk menanggapi alias saking miskin ide untuk blogging.

Nowadays, dunia kuliner sedang menjadi primadona. Banyak diperbincangkan baik secara lisan maupun tulisan, audio ataupun visual. Instagram menjadi panggung untuk mempertontonkan berbagai macam varian kuliner masa kini. Entah itu sebagai media promosi atau statement, hey gue udah makan ini lho, gue orang pertama yang nyobain ini lho, gue hits kan atau hidup gue oke kaaaan.

Dunia kuliner memang nggak ada matinya. Untuk bertahan didunia ini memang butuh inovasi, keuletan dan kejelian dalam melihat sebuah peluang. Tahun-tahun belakangan, banyak bermunculan makanan-makanan dengan inovasi yang saya anggap oke punya hingga semakin kesini semakin basi punya. Kenapa? Semacam sudah tau syarat dan ketentuan yang berlaku untuk menjadi hits dan eksis. Makanan yang hits, enak dan modern adalah makanan yang dibumbui dengan rasa Red Velvet, Oreo, Nutella, Green tea dan kawan-kawan. Saya sepakat sama Mas Eja, seakan kalau dibubuhi perasa tersebut praktis makanan yang dijual akan hits dan menggelegar. Mengutip tulisan Mas Eja ;
Alih-alih menawarkan makanan yang berbeda mereka hanya menampilkan makanan yang sama, namun dengan kemasan yang berbeda.
Sepakat Mas Eja! Hala Mas Eja! #eh. Tanpa saya sebut namanya, you know lah makanan apa saja itu yang dijual dengan bumbu hits, jangankan tertarik untuk mencoba, rasanya aja saya udah apal banget. Semacam, "oke aku udah tau rasanya, so ngapain musti beli?" Saya pribadi sama sekali nggak punya ketertarikan untuk beli makanan itu. Jadinya apa? Alih-alih mereka menghadirkan inovasi baru untuk menarik pembeli, justru dengan hal itu lama kelamaan masyarakat akan jenuh dan bosan. Hasilnya apa? Noone cares with those green tea, red velvet, or anything else about that. Mereka hanya menciptakan bom waktu, kalau nggak sekarang ya paling beberapa waktu lagi rasa kekinian itu bakal hilang. *sok tau* 

Then, saya kurang sepakat sama Mas Eja, kalau jomblo musti dibubuhi green tea supaya laku. Bagi saya, jomblo biarlah memiliki khas nya sendiri layaknya kopi jos dan rujak es krim yang tanpa perlu tambahan perasa masih tetap di gandrungi masyarakat. Tetaplah menjadi jomblo dengan keunikan sendiri tetapi ada yang akan mencintai sepanjang masa daripada green tea yang banyak pecinta tapi hubungannya hanya sebentar. *ditampar*

Mengenai munculnya Es Krim Kuburan Mantan, Coklat Enteng Jodoh. Bener kata Mas Eja, ini namamya eksploitasi. Mantan tetaplah jadi mantan, biar gimanapun dia pernah menjadi satu-satunya orang yang kita cari pertama kali saat bangun tidur, orang yang pernah kita lap-in keringatnya, suapin makannya dan elus elus rambutnya. Sabar ya ntan... *ini kesurupan Mas Eja*

Apakah ini trend semata atau berkelanjutan?
Hendaknya jadilah seperti saparella dan rujak es krim yang rasanya otentik dan melegenda.
Mungkin kita harus definisikan dulu kata dari makanan, inovasi dan latah. 




Jadi, kuliner kontemporer merupakan inovasi atau kelatahan?
Mungkin, inovasi hanya berlaku pada ide yang muncul pertama kali. Selanjutnya hanya-kelatahan-saja.

Sepakat pula dengan Mas Adit,
Kalau arah, kuliner kontemporer terus seperti ini. Sepertinya saya lebih tertarik dengan Molecular Gastronomy – Adhityo Wicaksono, Food Blogger.

You Might Also Like

1 komentar

  1. hehe jadi kuline rjuga bsia latah to mbak hehe

    ReplyDelete