Cerdas Dari Dapur

Pernah dengar quote ini ; Sebenarnya sebuah berita lama membuat saya tertohok dan teringat akan quote ini. Berita lama yang sekali lag...

Pernah dengar quote ini ;


Sebenarnya sebuah berita lama membuat saya tertohok dan teringat akan quote ini. Berita lama yang sekali lagi, setiap saya membacanya selalu membuat saya tertohok. Pernyataan ini datang dari Menteri Perdagangan, Enggartriasto lukita. Kalau boleh mengutip, berikut yang Beliau katakan;
"Tanam sendiri cabai, kita ada solusi yang tidak ilmiah. Satu kalau mau cabai kering"

Pernyataan tersebut dikeluarkan karena beliau dipertanyakan atas harga cabai yang setinggi langit. Beberapa waktu yang lalu harga cabai sempat mencapai Rp. 150.000 per kilogram (lebih mahal dari harga daging eim). Lantas banyak juru warta yang mempertanyakan solusi dari dampak kenaikan harga cabai. Ada dua solusi yang Beliau sampaikan, yaitu; Beliau menghimbau masyarakat untuk mulai menanam cabai di pekarangan rumah (artinya: tanam aje lu sendiri) atau yang kedua, memakan cabai kering. Memakan cabai kering tentu bukan kebiasaan dari banyak warga Indonesia bukan? Saya pikir, daripada beneran makan cabai kering atau makan nasi lauk cabai doang (baca: nggak mampu beli lauk, jadi makannya nasi dan cabai) lebih baik kita coba menanam sendiri di pekarangan. 

Balik lagi;
Kalau dipikir-pikir, masa sih Menteri ngomongnya begitu? Kan sudah menjadi tugasnya untuk memikirkan regulasi perdagangan dalam negeri?

Kalau dipikir-pikir lagi, bener juga sih. Kenapa juga kita harus bertumpu pada negara jika kita sendiri bisa mengusahakannya? Kenapa kita harus menunggu, kalau kita sendiri bisa melakukannya? KEnapa selalu mempertanyakan apa yang negara bisa berikan? Lalu kita bisa apa untuk negara? #edisilagibener

Berkaca dari hal itu, saya udah mulai bergerak nih. Benar juga kata Pak Enggar, ngapain musti ribet kalau memang bisa dibuat nggak ribet? Yaudah nanam aja sendiri keleuuussss... Saya mulai dari yang mudah dulu, menanam daun bawang. Saya doyan banget makan daun bawang soalnya. Kalau masak sop, selalu deh daun bawangnya yang banyak. Selain itu, daun bawang juga bikin masakan lebih wangi dan manfaat baiknya, daun bawang juga berdampak baik bagi tubuh.

Jadi saya mulai tahapnya dengan mengambil tanah subur, kemudian memasukkannya ke dalam pot kecil. Kemudian mulai menancapkan bawang merah utuh yang kualitasnya masih bagus ke dalam tanah.




Nggak perlu waktu lama, sehari semalam pun sudah tumbuh tunas.
Dua hari, hasilnya begini

Nah maklum karena ini baru percobaan, daun bawangnya nggak diberi pupuk, makanya daunnya kecil-kecil kaya kurang gizi gitu. Nanti setelah percobaan ini berhasil, baru saya beli peralatan lengkapnya, hihihi.


Gimana menurut pendapat kalian? Share juga dong tentang pengalaman kalian menyikapi harga bahan makanan yang mulai meningkat tajam setajam silet. Terus, gimana pengalaman kalian berkebun sendiri dirumah?

Daripada kita ribet ngurusin lombok yang harganya selangit, yuk bareng-bareng coba tanam bahan dapur yang bisa kita tanam! Tapi lombok agak susah sih, harus disemai dulu. Kalau nggak disemai susah tumbuhnya, hiks. Mulai dari yang gampang-gampang aja deh dulu, baru merangkak ke yang susah, hihihi. 

Setelah saya baca-baca, ternyata banyak loh bahan masak yang bisa kita tanam sendiri. Cara menanamnya mudah, begitupula cara merawatnya. Daripada dipasar ribut tawar-menawar karena harga nggak sesuai hati, mending kita nanam sendiri kali yah. Di post selanjutnya, saya akan bahas tanaman apa aja yang bisa kita tanam sendiri di dapur. Demi Indonesia yang lebih hemat tsaaaaay. Stay tuned ya!


NB :
Tulisan ini agak aneh, yang dikutip lombok tapi yang ditulis menanam daun bawang. Mmm, maksud saya menulis ini sebenarnya adalah mengajak teman-teman menanam bahan dapur yang sebenarnya bisa kita tanam sendiri, lombok salah satunya. Daun bawang juga. Karena yang paling mudah daun bawang, ya saya buat daun bawang. Kalau teman-teman mau menanam lombok, ya monggo. Intinya, nggak usah pusing memikirkan bahan dapur yang selangit karena kita bisa menanamnya sendiri di rumah. Belajar cerdas di mulai dari dapur. Gitulah...
post signature


You Might Also Like

0 komentar