Pengen Ke Maldives?

Saturday, March 17, 2018

Yaiyalah!

Siapa sih manusia di muka bumi ini yang nggak pengen ke Maldives? Siapa???????

Ngeliat foto dan video orang aja udah bikin saya jatuh cinta sama Maldives. Gimana kalo saya yang beneran kesana coba? Makin kesengsem!! Sebelum berangkat ke Maldives, ada baiknya kita tau-lah sedikit-sedikit informasi disana. Apa yang harus disiapkan kalau mau pergi ke Maldives? Apa yang harus diketahui kalau pergi kesana?

Butuh waktu yang panjang untuk mempersiapkan liburan saya ke Maldives. Sebuah negara berkembang yang masuk dalan wilayah Asia Selatan. You know lah bagaimana reputasi negara-negara di Asia Selatan. Salah satu negara yang mungkin lekat dengn kita adalah India. Lihat bagaimana kita melihat negara India? Begitulah Maldives yang ada di pikiran saya.

Mungkin maldives banyak bajaj, banyak polusi dan berantakan. Terus disana bakal susah komunikasi deh kayaknya :((( 

Selain itu, tepat 2 minggu sebelum jadwal keberangkatan, muncul berita bahwa Presiden Maladewa mengumumkan negara dalam keadaan darurat. Sedang terjadi pergulatan politik, dimana Presiden berselisih dengan Mahkamah Agung karena menolak untuk membebaskan tahanan politik.  Terjadi demo dimana-mana dan aksi protes secara besar-besaran. HEAK! Takut nggak lu denger berita begituan? Baru nikah, mau honeymoon, kan nggak lucu kalau tiba-tiba disandera di negara orang? Lagian, di Maladewa juga nggak ada KBRI. Kudu banget ke Colombo kalo ada apa-apa?

Tapi semua sudah terlanjur. Pernikahan sebentar lagi, tiket pesawat udah dibeli, hotel udah dibayar, resort udah lunas,  fixed, honeymoon sudah didepan mata. Mau gimana lagi?


Satu hal yang sudah bisa dipastikan adalah transportasi tidak akan semudah ketika kita berkunjung ke negara yang tingkat ekonominya lebih mapan. Hal itu yang bikin saya ketar-ketir saat berkunjung. Mengingat Indonesia sendiri sebagai contohnya. Awalnya saya membandingkan Maldives dengan Indonesia, dimana negara kita ini merupakan sebuah negara kepulauan yang jauh lebih besar dan luas secara geografis serta memiliki pendapatan yang berasal dari banyak sektor. Tentu, saya pikir Maldives tidak memiliki transportasi seperti Indonesia atau bahkan yaa... tidak seperti Indonesia lah.

Bayangkan saja, hampir seluruh komponen di Maldives berasal dari aktivitas impor luar negeri. Beras? Impor, Telur? Impor. Susu? Impor. Ayam? Impor. Daging? Impor. Sembako? Impor. Bahan bangunan? Impor. Seluruh barang yang diperjual belikan, yang digunakan dan dikonsumsi disana berasal dari luar negeri. See, darimana datangnya pendapatan negara jika bahkan seluruh aspek perekonomian saja berasal dari luar negeri?

Jawabannya sudah pasti, hanya pariwisata. Mereka hidup dari sektor pariwisatanya. Bahkan seperti yang pernah saya baca, pendapatan GDP terbesar dari Maldives adalah berasal dari sektor pariwisata. Nggak heran kalau seluruh penduduknya (katanya) sangat ramah dan memahami betul bahwa turis adalah sumber utama mereka. 

Itu yang berada dalam pikiran saya sebelum benar-benar menginjakkan kaki disana.

Negara Kepulauan


Mengingat Maldives merupakan sebuah negara kepulauan, sudah bisa dipastikan moda transportasi umumnya adalah kapal ferry atau speeboat. Pulau-pulau di Maldives umumnya sangatlah kecil. Seluruh pulau bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Bahkan Ibukota Negara-nya saja, Male, bisa kita habiskan dengan berjalan kaki selama setengah hari. Pun, jalanannya sangat kecil dan sempit. Pernah ke Kuta, Bali ? Jalan raya yang dipinggir pantai Kuta? Nah kurang lebih sebesar itulah jalanan Ibukota. 

Jangan samakan Pulau di Indonesia dengan  Pulau yang ada di Maldives. Pulau Jawa misalnya, sungguh sudah pasti nggak bisa di bandingkan dengan Pulau Maafushi. Maafushi pun paling cuman segede Pulau Madura, bahkan lebih kecil.

Pulau di Maldives yang terbentuk secara natural umumnya memiliki luas yang tidak besar, sehingga beberapa pulau memang dilakukan reklamasi atau penambahan luas pulau dengan menggunakan pasir/tanah baru. Sehingga diharapkan pulau ini dapat difungsikan secara maksimal, salah satu pulau yang saya ketahui adalah Hulhumale. Hulhumale adalah salah satu pulau yang dibuat khusus untuk pembangunan hotel saja. Direncanakan ada 60 jumlah hotel yang akan beroperasi, sehingga kalau kita pergi kesana sekarang, akan terlihat banyak sekali pembangunan. Hulhumale merupakan pulau terpisah dari airport yang bisa dijangkau hanya dengan menggunakan mobil saja. Umumnya, turis yang kebagian landing dimalam hari lebih memilih untuk menginap semalam disini dan keesokan harinya baru melanjutkan perjalanan ke pulau lainnya.

Menurut ngana? Siapa yang mau melewati Samudera Hindia di tengah kegelapan malam dan keheningan senja? 

Untuk transportasi di pulau, kita nggak perlu khawatir. Cukup berjalan kaki saja kita sudah bisa menjangkau keseluruhan pulau. Satu hal yang harus kita cermati adalah transportasi laut antar pulau. Kalau ingin murah, cukup ikuti jalur ferry lokal aja, tapi kalau memang punya uang lebih, kita bisa menggunakan speedboat dengan harga yang berkali-kali lipat dari biaya ferry namun dengan durasi yang lebih singkat.

Makanan Asia Selatan


Bagi masyarakat Indonesia (elah baku banget 'masyarakat') mungkin makanan disini nggak terlalu mengejutkan, karena rasanya kurang lebih dengan masakan Padang yang ada di Indonesia. Daripada kurangnya tentu banyak lebihnya sih; lebih pedas, lebih rempah, lebih kari dan lebih besar porsinya. Nggak heran yang orang-orang sini badannya gede-gede dan tinggi, hehehe.

Umumnya, makanan lokal di Maldives bercita rasa pedas, tapi beberapa daerah turis lebih banyak menjual masakan yang tidak pedas dan justru kebarat-baratan. Masakan yang sering dijumpai di Maldives adalah masakan Thailand dan India. Buat lidah Indonesia yang cenderung ke-oriental-an, mungkin bisa memilih masakan Thailand, tapi buat yang suka masakanan santan bisa aja nyoba makan masakan India-nya.

Satu hal yang harus kalian tau sebelum memesan makanan, porsi makanan di Maldives itu GEDE BANGET. Buat perempuan, mungkin satu porsi bisa dimakan bertiga. Kalau datengnya pas lagi honeymoon, berdua bareng pasangan, ya mending satu bagi dua ajalah, HAHAHAHA. Biarin aja dibilang pelit, daripada buang uang banyak banget. Bayangkan aja deh, sekali makan di Maldives selalu aja habis diatas Rp. 200.000 berdua, sementara porsi besar dan dua-duanya nggak abis. Kan sayang banget uangnya, mending sepiring berdua, jadi bisa hemat uang makan 50% nya kan?

Ekonomi


Ditinjau dari segi keuangan milenial zaman now, mungkin harga makanan nggak mahal-mahal amat. Ya sama-lah pengeluarannya kaya di Indonesia kalo kita segala pake ngopi di cafe, makan di warung atau nongkrong cantik di restaurant. Nggak beda jauhlah jeng...

Meski begitu, karna saya generasi 90'an yang menolak milenial (TSAELAH), kurang demen ngopi di cafe, makan mahal di restaurant, harga makanan di Maldives termasuk mahal mak. Sekali makan berdua bisa menghabiskan uang sebesar Rp. 300.000,- - Rp. 400.000,-. Bayangkan kalau dibawa ke Jogja, BISA MAKAN BERAPA GEROBAK ANGKRINGAN? Gak ding lebay. Yang jelas uang segitu bisa dipake makan selama seminggu di Jogja. 

Kalau kita tinggal atau menginap di pulau turis (tempat dimana turis banyak menginap), tentu harga makannya lebih mahal. Sementara kalau kita nginap di pulau yang jarang ada turis, harga makanan bisa lebih miring. Misalnya aja Maafushi dan Hulhumale. Harga makanan di Hulhumale tentu lebih murah daripada di Maafushi. Hulhumale merupakan sebuah pulau yang umumnya hanya menjadi tempat persinggahan aja, yang kaya saya bialng tadi diatas.

Liburan ke Maldives nggak usah bingung dengan mata uang. Mata uangnya adalah Rufiyaa, tetapi kegiatan ekonomi lainnya bisa dilakukan dengan menggunakan Dollar Amerika Serikat (USD). 1 USD = 15 Rf. Kalau belanja, tanya aja berapa kalau dikonversikan dalam bentuk USD. Saran saya, cukup tukar IDR ke USD aja secukupnya, nanti kalau udah sampai sana bisa tarik menggunakan mesin ATM lokal. Lebih mudah menggunakan Rufiyaa daripada USD. Hal ini untuk menghindari mespersepsi dan miskomunikasi antara kita dan pedagang atau bisa aja karna kita nggak bisa mengkonfersikan akhirnya mereka sengaja melebih-lebihkan jumlah uang dalam USD. Kalau gitukan kita yang dirugikan.

Tapi, ada tapinya nih. Satu hal yang menurut saya unik di Maldives adalah setiap kali saya melewati mesin ATM, selalu aja rame antrian orang mau narik uang. Pernah suatu kali saya lihat, dalam satu ruangan ada 3 mesin ATM dan ketiganya memiliki antrian lebih dari 9 orang. How was come? Kayaknya sih karna  mesin ATM itu jumlahnya nggak banyak dan keberadaannya terbatas hanya ada di Ibukota saja. Bukan begitu?

Budaya dan Kebiasaan

Maldives merupakan sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Muslim. Jika berkunjung ke pulau penduduk atau Ibukota Negara, untuk menghormati budaya setempat, ada baiknya kita menggunakan baju yang tertutup. At least, berlengan dan panjangnya dibawah lutut. Nah kalau mau pake baju yang sedikit terbuka hingga terbuka agak banyak, bisa digunakan di pulau yang sering dikunjungi turis. Bahkan, untuk penggunaan bikini pun nggak bisa dipake disembarang tempat. Penggunaan bikini hanya  diperbolehkan di bikini beach saja. Kalau mau berenang di pantai lokal, harus menggunakan baju tertutup.

Penduduk Maldives kebanyakan sangat ramah, pun di pulau penduduk yang kini banyak dikunjungi turis. Mereka memberikan pelayanan sebaik mungkin agar turis bisa lebih nyaman dan tentunya akan berkunjung ke panginapan mereka lagi. They are kind and humble. Selama saya berada di Maldives, saya nggak menemukan satu orangpun yang berusaha menipu atau menjebak turis. Mereka jujur dan sangat membantu. Dalam segi bahasa, seperti Asian pada umumnya, tidak semua orang bisa bahasa Inggris dan kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Inggris alakadarnya. Maksudnya, ya bahasa Inggris ala orang Asia, sepatah-sepatah, yang penting ngerti gitulah, hehehe.

Mau ke Maldives nggak perlu takut nyasar dan nggak bisa bahasa. Just go with the flow.

That's it! 



No comments:

Powered by Blogger.