Makan Siang dengan Pemandangan Laut di Citron by Lemongrass - Maldives

Saturday, May 05, 2018

Siang itu saya menyeberang dari Pulau Hulhumale menuju Male. Tujuan utama saya adalah Pulau Maafushi, tetapi sebelumnya saya harus melewati Male (Ibu Kota Negara Maladewa). Cuaca disana terik banget, panas dan menyengat. Ya jelas sih, 'kan dikelilingi laut, jeng!

Baca juga : Di Maldives nggak ada becak? Ke Maafushi naik apa?

Biaya naik speedboat dari Pulau Hulhumale cuma 2USD. Setelah sampai di Male, saya langsung menggeret tas menyusuri jalan. Diluar ekspektasi, jalan disana kecil banget, saking kecilnya, bukannya pake aspal tapi pake conblock.


Jalan cendering sempit dan menggunakan conblock
Rencana awal, saya mau makan di dekat Pelabuhan Vilingili (pelabuhan sandar kapal ferry menuju Maafushi), supaya cepet dan praktis. Baru aja turun dari ferry, ternyata udah keburu laper. Kebetulan, disepanjang jalan didekat jetty (tempat kita turun dari ferry), ada banyak restaurant, cafe atau rumah makan. Salah satunya, Lemongrass By Citron.

Foto : Lemongrass By Citron


Lokasi

Jarak antara ferry terminal dan Lemongrass cukup dekat'kan?
Letak restaurant ini deket banget sama jetty. Setelah turun dari ferry, langsung aja jalan ke arah sebelah kiri. Setelah 5 menit, di kiri jalan, agak masuk dikit, ada tertulis Citron By Lemongrass. Restaurant pinggir laut dengan 2 lantai dan memiliki pilihan meja dengan atap terbuka. Cukup menarik bukan?



Worth to buy, huh?

Harga makanan disini lumayan mahal sih. Makan berdua habis sekitar 38USD, ya hampir sama lah kaya makan di restaurant Indonesia. Dengan service dan presentasi makanan yang bagus, saya nggak keberatan sih untuk bayar makanan dengan harga segitu. Pelayan dengan baik dan sabar melayani, meski Bahasa Inggrisnya nggak begitu bagus. Maksudnya, Bahasa Inggris saya. Eh, mas-nya juga -ding.

Salmon Soup
Saya pesan beberapa makanan; salmon soup, kari dan grilled tuna. Untuk minuman, saya sengaja nggak bahas, karena pesennya smoothie dan air mineral doang!

Honestly, sup Salmon ini rasanya agak hambar. Jadi pas makan tuh kaya, "Gini doang nih?". Pernah 'kan kalau makan, high expectation, ternyata hasilnya berkebalikan? Mungkin karena menu disesuaikan dengan lidah turis, yang notabene banyak turis Eropa. Jadi rempah-rempah sedikit dikurangi. Lumayan sih untuk menu pembuka.


Selain sup, saya pun memesan Kari. Ketika memesan, pelayan sudah mewanti-wanti kalau Kari ini bakal pueedeeesss banget. Ternyata benar! Rasa rempah sangat menyengat didominasi pala, cengkeh dan rasa pedasnya menjalar sampai ke hidung. Pernah ngerasain nggak? Saya yang aslinya seneng banget makan pedes, akhirnya harus menyerah kalah. Nggak kuat!

Menu kari disajikan dengan lengkap, yaitu; acar, sayur kari, daging kari, dan sambal. Kalau nggak tahan pedes sih bisa berlinang air mata. Rasanya sedikit banyak mirip dengan makanan khas Aceh, banyak rempah. Rasa kari daging kaya akan rempah, tapi nggak bikin enek. Cocok banget dimakan bareng acar yang rasanya asem dan kecut. 
Kari
Kalau menu yang ini, low expectation tapi yang dateng melampaui bayangan. Saya pesan Grilled Tuna, kirain daging tuna-nya bakal tipis banget. Ternyata tebel, gede dan ada 2 potong. Suami deh yang akhirnya ngabisin, karena yang disajikan bukan cuma daging tuna doang, ada nasi. Kebayang dong lauk jumbo ditambah nasi.

Grilled Tuna


Nasi menggunakan beras basmati. Bentuknya kurus, panjang dan kering (I mean, nggak lembek kaya beras Jawa). Jadi kalau yang biasanya makan menggunakan beras jawa, pas makan nasi disini tuh mungkin nggak biasa. Selain itu, baunya agak sedikit menyengat. Oya, porsi makan di Maldives ini gedong-gedong banget! Aslik! Awalnya kita pesan makan ya kaya makan di Indonesia; makanan pembuka, utama, penutup, camilan dan minum. Beberapa kali makan di Maldives, ternyata yang dateng porsi jumbo! Alamak, nggak abis. Jadi, saran saya; coba pesan satu menu dulu, kalau memang kecil 'kan bisa tambah lagi. Tapi kalau ternyata porsi besar, 'kan bisa dibagi dua?


Kalau ngomongin pemandangan disini, lumayan bagus sih. Berada di tepi laut, airnya biru tosca  dengan gradasi biru gelap. Mungkin karena bukan pantai, jadi lautnya nggak landai, langsung laut dalam. Duduk dibawah matahari langsung bukan menjadi pilihan untuk makan disiang hari, sinar matahari cukup menyengat. Lain halnya kalau kesini saat sore hari menjelang malam, mungkin akan lebih nikmat mencoba duduk di tepi. Anginnya semilir dan pengunjung yang nggak terlalu riuh, cukup menambah nilai plus bagi Citron. 


Mampir ke Male? Saya rekomendasi untuk makan di Citron by Lemongrass sambil menunggu jam terbang atau jadwal ferry di Villingili. Selamat mencoba!

No comments:

Powered by Blogger.