Travelling Bersama Pasangan Bisa Jadi Romantis Atau Malah Tragis? Berikut Tips Agar Travelling Menyenangkan

Friday, July 27, 2018

Setelah menikah, banyak banget yang berubah. Mulai dari perkara bangun pagi aja udah beda. Sewaktu masih single, mau bangun jam berapapun nggak masalah, tapi ketika sudah punya suami, hidup jadi nggak bisa sembarangan. Bukan karena dilarang atau diatur, tapi kesadaran diri sendiri  sih kalau sekarang sudah punya tanggung jawab. Semacam ada peraturan tertulis yang mengharuskan saya, sebagai istri harus bisa merawat suami.

Kalau bahas suami istri, saya selalu ingat makna dari wanita dalam bahasa jawa, bahwa wanita itu; wani ditata. Artinya sebagai seorang wanita, kita tunduk terhadap suami. Tentunya dalam hal yang baik yah. Suami mengayomi keluarga sementara istri mendukung dan mematuhi apapun yang diminta oleh suami. Oleh karena itu ada pepatah jawa lagi nih yang bilang kalau istri itu suwarga nunut neroko katut. Artinya, mau ke surga atau neraka, baik atau buruk suaminya, si istri akan selalu terlibat di dalamnya. Nah makanya, sebagai istri harus pintar-pintar merawat suami supaya kita perginya ke surga aja, jangan neraka, hihihi

Memilih menikah dan terikat tentu merubah seluruh aspek kehidupan kita, termasuk salah satunya kegiatan berlibur atau travelling. Kalau dulu masih single, mau pergi sendirian dan kemanapun nggak masalah, asal ada restu dari orang tua. Lah sekarang, kemana-mana harus berdua, packing di hari H pun nggak masalah, tapi karena sekarang yang disiapkan bukan cuma seorang diri, tapi ada milik suami juga, jadinya packing harus dari jauh hari. Terlebih laki-laki kan suka sembarangan dan kadang kurang prepare, jadi sebagai istri saya mengambil alih kendali, hehehe.


Travelling bisa jadi momen yang romantic, bisa juga menjadi tragic

Travelling  berdua suami, kedengarannya pasti romantis karena bisa bermesraan dan dunia serasa milik berdua. Pada kenyataannya, tidak selalu begitu. Ketika bepergian ke tempat yang asing dan lingkungan baru biasanya kita memiliki respon yang berbeda dalam menghadapi keadaan tersebut.

Ada yang merasa tertantang atau malah sebaliknya. Ketika merasa kesulitan, ada yang memilih untuk istirahat sejenak atau ada yang justru mencari-cari jalan keluarnya. Perbedaan kita dalam merespon masalah inilah yang kadang bisa menjadi akar dari pertengkaran.

Maunya naik gunung buat liat pemandangan bagus, tapi ternyata istri nggak kuat menanjak sementara suami ngotot mau naik. Alih-alih mau romantis-romantisan, malah jadi perjalanan yang tragis. Jadi, ada baiknya kalau kita merendahkan ekspektasi dan selalu meredam emosi. Ketika kita berekspektasi tinggi berharap akan liburan dengan romantis dengan pasangan, sementara keadaan tidak seperti yang di harapkan. Hal ini bisa bikin mood makin buruk dan memicu pertengkaran. 


Susun barang secara terpisah 

Laki-laki kadang suka teledor dan sembarangan kalau nyusun dan ngambil barang. Hal ini yang kadang bikin saya melotot. Jadi, saya selalu memisahkan antara barang saya dan suami dengan menggunakan travel organizer

Pisahkan antara baju dan celana masing-masing, karena ini sering menjadi akar keributan *curhat*. Kebiasaan laki-laki kalau ngambil barang suka seenaknya, misal; dalam satu tumpukan baju, kadang kalau mau ambil baju yang ada di tumpukan paling bawah, mereka bukannya ngangkat baju yang diatasnya, melainkan langsung tarik aja. Nah cara kaya gini bukannya membantu untuk rapi malah bikin baju kita berantakan dan kusut.

Untuk menghindari cekcok dan nggak rela baju saya ikutan kusut, saya pun menggunakan travel organizer. Jadi ketika sudah sampai hotel, saya tinggal keluarkan kantong baju dan taruh di dalam lemari pakaian yang disediakan. Soalnya saya pengalaman banget baju cuma di taruh di koper, akhirnya kamar jadi berantakan dan mengurangi kenikmatan menginap di hotel. HEYAK


Bagi tanggung jawab bersama pasangan

Pembagian tugas ini sangat memudahkan kita ketika melakukan perjalanan, meminimalisir pertengkaran, jadi nggak ada lagi pertengkaran dengan kalimat,

"kamu aja"
"nggak ah, kamu aja"

Drama kaya gini nih yang bisa merubah mood liburan jadi pertengkaran. Dengan membagi tugas dan tanggung jawab, biasanya kita jadi merasa punya kewajiban untuk menuntaskannya.

Misalnya hal yang sering saya lakukan bersama suami, saya sebagai penanggung jawab keuangan dan segala pembelian, sementara suami bertanggung jawab akan akomodasi dan transportasi. Ia bertugas untuk membaca peta, mencari informasi, merefer transportasi dan segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan perjalanan.

Sebagai menteri keuangan, saya bertugas untuk mengatur budget perjalanan, mengeluarkan uang dan menyimpan segala macam dokumen yang diperlukan. Jadi kami sama-sama mengerti tugas dan tanggung jawab, maka ketika menemukan masalah, si penanggung jawab inilah yang bergerak mencari solusi.


Berikan waktu "me time"

Namanya aja liburan ya, semuanya pengen menikmati. Kadang, liburan laki-laki dan perempuan itu beda, sulit untuk dipaksakan selalu bersama. Meski kadang pasangan memiliki hobi yang sama, tapi tetep aja selera liburan setiap orang itu beda.

Nah di momen ini kita bisa memberikan space untuk merasakan waktu sendirian atau menikmati liburan ala kita sendiri.

Misal, seperti yang sering saya dan suami lakukan. Kami memang satu tujuan perjalanan, yaitu culinary trip, tapi memiliki ketertarikan terhadap barang belanjaan yang berbeda. Ia lebih suka berbelanja alat elektronik, sementara saya suka belanja baju dan makeup. Nah di saat ini lah biasanya kami berpisah dan janjian disuatu tempat untuk bertemu kembali. 

See?

Kalau kita dipaksa untuk mengikuti salah satu, pasti akan membosankan. Berikan waktu untuk diri kita dan nikmati liburan dengan bebas!


Berantem dan kompromi, tau kapan untuk berhenti dan memulai

Karena kita pergi ke tempat baru, kadang sesuatu bisa aja terjadi diluar ekspektasi. Things went wrong, mistakes were made, manusiawi. Bahkan kadang alam juga yang menentukan perjalanan. Stop blamming each other. Nggak perlu berantem dan saling tuduh, karena kita semua hanyalah manusia biasa. Wajar berbuat salah dan keliru.

Belajar kompromi pada masalah, terlebih pada pasangan. Silakan marah dan melampiaskan kekesalan, kemudian ambil waktu sejenak untuk menarik nafas, dan lupakan semua yang terjadi, leave it. Kembali lah seperti biasa pada pasangan. Nggak perlu bahas kesalahan, mulai lagi dari awal.

Disini biasanya akan terlihat aslinya pasangan. Holiday are real life. Cara kita merespon masalah kadang terjadi secara spontan, maka akan terlihat sifat aslinya. Bagaimana ia merespon masalah, menyelesaikannya dan melindungi keluarganya. Maka setelah liburan, kita perlu telaah, bercermin dan merefleksikan apa yang terjadi ketika liburan dan menjadikannya pelajaran untuk kita lebih memahami pasangan.


Jauhi keramaian dan tempat mainstream

Salah satu syarat saya kalau pergi dengan suami adalah menjauhi keramaian. Kadang keramaian atau tempat mainstream menyulut saya untuk naik pitam. Tempat mainstream itu kadang ramenya nggak ketulungan, desak-desakkan dan gampang merubah mood. Jadi saya dan suami selalu menjauhi tempat-tempat mainstream yang sering dikunjungi orang-orang kebanyakan.

Kalau orang-orang banyak ke pantai, kami mungkin pergi ke cafe di puncak bukit atau kalau orang-orang pergi ke air terjun, kami pergi ke waduk menikmati senja. Kadang menciptakan romantisme sendiri itu perlu. Liburan kita jadi nggak bergantung sama orang lain dan kita bisa menikmati dengan tenang.


Hug and Kiss

Bagi saya, makanan utama bagi sebuah pernikahan dan kedekatan dengan pasangan adalah pelukan dan ciuman. Kadang, ketika capek dan putus asa nggak nemu jalan pulang, genggaman dan pelukan dari pasangan itu yang menguatkan.

Atau ketika sesuatu hal terjadi di luar ekspektasi, kemudian kita berantem dan sejenak terdiam. Pelukan dan genggaman itulah yang membuat kita kembali mereda. Kaya yang saya bilang tadi, when things went wrong, mistakes were made. Kamu bisa marah, tapi kemudian tenang lah dan leave it. No bringing it up. Hug and kiss your husband.

Somehow, liburan bersama laki-laki itu ya kuat-kuatnya kita aja. Mereka bisa telat, bangun kesiangan, naruh baju sembarangan, jalannya cepet tanpa memperhatikan kita keteteran atau mereka yang nggak sabaran nungguin kita belanja. Biar gimanapun, mereka pasangan kita dan donatur terbesar dalam kegiatan berbelanja kita. Kiss and thank him.

Jauhi akar masalah yang bisa membuat mood berubah buruk adalah koentji agar liburan bersama suami lebih menyenangkan. Jadi, sudah siap untuk berlibur?

No comments:

Powered by Blogger.