Siapa Bilang Liburan Bersama Mertua Nggak Asik? Justru Lebih #AsikTanpaToxic

Saturday, August 25, 2018
Kemarin adalah liburan pertama saya bersama mertua setelah 5 bulan menyandang status 'mantu baru'. 5 bulan menikah dan hubungan dengan mertua masih kaya awal orang pacaran. Masih pendekatan, manis-manis, mencoba mengenal, meraba-raba aturan di rumah baru (bagi saya), perilaku masih belum keluar aslinya dan sedang berusaha menyocokkan satu-sama lain.

Mantu baru; status ini adalah status yang hangat untuk di 'goreng'. Kalau dengar cerita orang-orang, jadi mantu baru tuh harus sabar, apalagi tinggal serumah dengan mertua. Ibarat burung dalam sangkar emas, nyaman tapi nggak nyaman #lah gimana tuh.

Karena ini adalah liburan pertama kami, jangan di tanya gimana perasaan saya. Gini deh, jangankan mantu baru, mantu lama aja kalau liburan bareng mertua pasti keki kan, apalagi saya?

Ehm.

Mertua saya itu baik kok, ngizinin saya bangun siang, nggak ngatur saya mau ngapain aja, nggak suka nyalah-nyalahin meski kadang saya salah masak dan malah kadang suka jajanin #eh.

Sebagai pendatang, saya berusaha se-natural mungkin menjadi 'anak baru' bagi Beliau. Meski di luar sana banyak cerita mengenai mertua, tapi saya sebisa mungkin mengindahkannya. Meski seribu mertua galak, nampaknya mertua saya adalah yang paling baik.

Untuk mendekatkan diri dengan mertua, saya dan suami memutuskan untuk mengajak Beliau berlibur ke Jogja, karena saya yakin Beliau pasti suka. Jogja itu kota yang ramah dan asri. Lalu lintas nggak terlalu padat dan masyarakatnya ngerti unggah ungguh. Setau saya, hampir semua orang tua menikmati kehidupan di Jogja, terlebih kebetulan usia mertua sudah sepuh.



Perjalanan panjang Kalimantan - Jogja

Dari Kalimantan ke Jogja memerlukan perjalanan yang sangat panjang, se-tidaknya 8 jam perjalanan. Kami menggunakan pesawat dan kereta api. Pesawat dari Kalimantan itu nggak ada yang langsung Jogja, jadi kami transit di Surabaya terlebih dahulu kemudian naik kereta menuju Jogja.

Pun, penerbangan Sampit Jogja menggunakan pesawat harganya mahal sekali. Melebihi harga tiket PP Jakarta-Thailand. Sekalian ajak mertua jalan-jalan, jadi kami memutuskan untuk naik kereta saja.

Waktu tempuh dari Surabaya ke Jogja adalah 5 jam. Karena menyesuaikan waktu tiba di bandara dan jadwal kereta, saya ambil jadwal yang paling dekat, Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Kereta ini merupakan kereta ekonomi, itu loh yang tempat duduknya hadap-hadapan berjejer dua dan tiga. Nah karena berhadapan, ruang untuk kaki terasa lebih sempit, apalagi harus berbagi dengan penumpang lain'kan. Bisa kebayang dong ya 5 jam naik kereta ekonomi? Kaki rasanya pegel banget karena nggak bisa selonjoran dan kursi nggak bisa di atur. Kalau saya sih udah biasa, dari zaman jadi mahasiswa dulu udah pernah banget ngerasain hidup susah. Jadi kalau hal begini ini saya udah nggak ngeluh lagi. Kalau kondisi begini nih yang paling kasian ya mama mertua.

Kebetulan Beliau nggak bisa duduk tegak terlalu lama dan kaki harus lurus. Saya jadi merasa bersalah karena mama mungkin nggak nyaman. Apalagi mama punya riwayat penyakit ginjal, sehingga harus benar-benar di jaga makanannya. Menjauhi gaya hidup tidak sehat, jangan sampai stress dan sebisa mungkin terhindar dari udara yang tercemar polusi. Syukurlah kereta ekonomi sekarang nggak mengizinkan penumpangnya merokok di gerbong, sehingga mama bisa lebih tenang. Supaya mencairkan suasana, kami banyak habiskan waktu untuk makan dan mencobai makanan khas daerah tempat kereta berhenti. Mama selalu saya sarankan untuk minum air putih dan vitamin C agar kondisi tetap fit agar tetap #AsikTanpaToxic. Sembari menikmati makanan, kami juga menikmati pemandangan dari kereta.


Gunung, sawah, terasering, hutan dan nggak sedikit pabrik yang beroperasi di pinggiran kota dimana kereta kami melaluinya. Momen ini adalah momen yang nggak bisa kami temukan di Kalimantan. Itulah mengapa saya selalu menikmati perjalanan menggunakan kereta api dan nggak pernah komplain meski perjalanan panjang.


Di sepanjang perjalanan, kami saling menghibur satu sama lain. Perjalanan kami hari itu di mulai dari subuh sehingga sisa kantuk masih menghampiri. Salah satu trik supaya nggak merasa terlalu lelah adalah berjalan-jalan di kereta atau memanfaatkan waktu singgah kereta di stasiun untuk sekedar meluruskan kaki. Kami pun bergantian berdiri dari kursi untuk melonggarkan otot-otot yang tegang karena harus duduk selama berjam-jam.

Oya, terkadang menciptakan tawa bisa membantu mengurangi kejenuhan. Meski tertawa bareng mertua tuh agak sungkan yah? hehehe.

Namanya aja mantu baru, harus pintar-pintar membawa diri.



Jogja Selalu Nyaman Tanpa Polusi

8 tahun yang lalu, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Jogja. Udara Jogja terasa sangat nyaman, tanpa polusi, jalanan lengan, penduduknya ramah dan harga makanan masih sangat murah. Lalu lalang kendaraan nggak begitu ramai dan pengendara masih sangat tertib. Ternyata kini berbeda.

Jam 17.00 WIB saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Sedikit lega akhirnya sampai di Jogja. Ketika keluar dari stasiun, jalanan padat merayap. Selepas keluar dari daerah lempuyangan, pun jalanan masih ramai lancar.

Kembali ke Jogja setelah kunjungan terakhir, dua tahun yang lalu. Kini Jogja sudah banyak berubah. Jalanan Jogja sudah semakin ramai dan macet. Sekarang, polusi dimana-mana dan banyak pengendara yang nggak tertib lalu lintas.

Kalau dulu, mungkin masih bisa saya sarankan untuk menyewa sepeda motor agar bisa menikmati suasana Jogja yang sejuk. Namun kini kondisi berbeda, saya menyarankan untuk menggunakan motor karena dimana-mana macet. Menggunakan mobil adalah ide yang nggak begitu bagus karena kita bakal terjebak macet. Apalagi di jam berangkat dan pulang kantor.

Awalnya saya pengen ajak mertua naik motor keliling Jogja, tapi ketika melihat kondisi sekarang, polusi dimana-mana, macet dan panas banget, nggak memungkinkan untuk mengajak mertua menikmati Jogja dengan naik motor. Alih-alih bakal berakhir dengan bahagia, mungkin saya bakal di jewer karna dianggap ngerjain orang tua, hehe. Akhirnya kita sewa mobil.

Sewa mobil di Jogja kini lebih mudah dengan menggunakan aplikasi perjalanan. Tinggal klik dan bayar, maka keesokan harinya mobil datang dengan sopir yang siap mengantarkan kami keliling Jogja.

Karena kali ini liburan bersama mertua, maka kami nggak bisa marathon wisata. Sehari hanya satu tempat wisata, setelah itu hanya di dalam kota saja. Mertua usianya sudah cukup tua, 54 dan 55 tahun, tentu beda dengan usia kami yang masih dibawah 30 tahun. Sehingga kami lebih menjaga stamina kedua orang tua.

Sebelum berangkat, kami pastikan untuk membawa obat-obatan dan menyusun itinerary sesuai kemampuan mertua. Pergi ke tempat wisata yang nggak jauh, jalannya mulus, pemandangan bagus dan banyak spot foto. Bukan, bukan untuk saya. Ini hanya untuk menyenangkan mertua semata. Orang tua zaman sekarang juga suka narsis loh.


Padahal jadwal sudah di kurang-kurangi tapi setiap hari selalu terasa sibuk dan sangat aktif di luar hotel. Saya khawatir kalau jadwal terlalu padat dan mertua aktif lari sana sini, nanti kesehatan malah terganggu. Usia 'kan sudah nggak muda lagi, jadi harus ekstra ketat dalam menyusun jadwal perjalanan.




Jogja Hari Pertama


Meski sudah ratusan kali berkunjung ke Malioboro, tetap saja saya selalu menyinggahinya. Orang bilang sih, "belum ke Jogja kalau belum ke Malioboro". Bener sih, Malioboro itu semacam mandatory visit kalau ke Jogja.

Hari pertama kami memutuskan jalan-jalan di seputaran Malioboro. Untuk pemanasan sebelum ke daerah tujuan wisata keesokan harinya. Soalnya mertua pasti capek setelah naik kereta selama lima jam. Lebih baik mempersiapkan stamina supaya besok bisa lebih segar.

Mengenai Malioboro, sekarang di sini nyaman banget, jalannya lengang dan banyak kursi. Kita jadi bisa menikmati Malioboro dengan lebih leluasa. Nggak rebutan sama parkiran motor dan ruang untuk berpegangan tangan lebih luas. Ehm.

Malioboro ini selalu menjadi tempat yang paling saya suka. Di Malioboro kita bisa melihat banyak orang lalu-lalang, suasananya terasa sangat Jogja dan sendu meski tempat ini nggak pernah sepi, selalu ramai. Kalau kata mas Katon:
Tiap sudut menyapaku, seakan penuh selaksa makna


Kebetulan kami menikmati Malioboro dengan cara yang berbeda. Saya bertemu dengan teman-teman lama saat kuliah, Lia dan Bela. Rasanya nggak pernah menyangka kalau bakal ketemu lagi sama mereka. Kebetulan mereka adalah teman dekat selagi kuliah, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Bertemu kembali di Malioboro kaya flashback saat dulu kita sering main disini.



Nggak banyak waktu yang bisa kami habiskan bersama, saya kembali pada mertua yang sedang asik duduk-duduk sembari melihat pertunjukkan musik jalanan. Bukan di Jogja kalau pertunjukkan jalanannya nggak menarik. Bahkan suara dan keahlian mereka bisa di sandingkan dengan penyanyi professional.

"Ah Jogja. Sudah malam mam, mari istirahat", ucap saya pada mertua.





Jogja Hari Kedua

Sesuai agenda perjalanan, hari kedua di Jogja kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Puncak Becici.
Perjalanan di mulai pukul 09.00 WIB. Dari Jogja ke Puncak Becici kurang lebih dua jam menggunakan mobil. Nggak begitu jauh dari kota Jogja.

Lokasi ini sedang menjadi trend anak muda, banyak teman-teman saya yang memajang foto mereka di Instagram. Fotonya instagramable, jadi kita semangat banget nih mau foto-foto di sini. Di Becici itu kaya ada beberapa spot yang bisa kita singgahi untuk mengambil titik foto. Jadi, kalau mau banyak hasil fotonya, kita harus jalan kaki supaya bisa dapet semua titik foto. Menurut saya sih worth it banget sama pemandangannya. Biaya yang di keluarkan untuk masuk daerah wisata ini pun sangat terjangkau, cuma Rp. 3.000 per orang. Murah kan?

Yang jadi masalah cuman, saya nggak nyangka kalau di puncak Becici ini kita harus mendaki lumayan jauh. Jadi untuk mendapatkan titik foto yang bagus dengan latar belakang pemandangan, kita harus menanjak dan menurun. Nafas saya cukup engap di sini, hahaha. Beda halnya dengan mertua saya, ternyata beliau masih cukup kuat untuk foto sana-sini. Wah, kalah banget nih saya di sini.

Setelah puas foto tanpa henti, akhirnya kami menuju perjalann berikutnya yaitu tebing breksi. Tebing breksi merupakan sisa-sisa dari lokasi penggalian batu yang kemudian di ukir dan dijadikan objek wisata. Lokasinya nggak jauh dari kota, masuk dalam Kecamatan Prambanan.

Setelah sampai di lokasi, ternyata di tempat ini pun kita harus naik tangga dan mendaki ke atas untuk dapat melihat pemandangan yang bagus. Oya, untuk masuk ke daerah wisata ini kita hanya cukup membayar parkir sebesar Rp. 5.000,- dan 'seikhlasnya' untuk biaya masuk per-orang. Wah cukup murah bukan?

Ketika saya kesini, sedang di lakukan perbaikan di beberapa titik. Sehingga debu dimana-mana, saya cukup stress karena ini. Udah panas, haus, capek, ditambah dengan debu yang beterbangan. Untung saya sudah konsumsi vitamin C dan minuman madu lemon sebelum berangkat. Jadi stamina masih kuat banget nih.


Berangkat jam 09.00 WIB, sampai di hotel jam 19.00 WIB. Seharian berada di jalanan. Badan udah lumayan remuk karna perjalanan yang panjang tapi masih ada sisa tenaga untuk pergi lagi mencari makan. 

Lumayan yah, seharian pergi tapi masih ada sisa tenaga. Jangan salah, udah nyampe hotel pun mertua masih ngajak makan di luar, padalah saya udah mau pesen makanan online aja. Saya sih cuma bisa bilang :

"Mam..."



Jogja Hari Ketiga

Jogja hari ketiga, kami menikmati fasilitas hotel. Menikmati pemandangan dari balkon dan skypool. Menikmati fasilitas hotel as its best, berenang. Kolam renang di sini bagus banget, mirip kaya infinity pool. Kayaknya sih mertua seneng banget pas diajakin kesini.

Berenang cukup lama, lebih dari satu jam. Di Sampit, di kota saya nggak ada infinity pool kaya gini. Jago juga sih mertua saya bisa berjam-jam berenang, padahal kemarin abis seharian jalan-jalan nggak berhenti dari pagi sampai malam. Fisiknya? Masih sanggup berenang hampir dua jam. Seneng? Sumringah kayaknya.


Saya menginap di Student Part Apartment, lokasinya di Jl Seturan Raya. Kenapa saya pilih seturan? Seturan itu daerah paling nyaman menurut saya, karena banyak tempat makan, hiburan dan banyak kafe murah yang enak di sini. Selain itu, saya udah jatuh cinta banget sama Student Park. Kamarnya lengkap, bersih dan tentu karena skypoolnya dong.

Skypoolnya ini selalu sepi, jadi udah kaya milik sendiri aja. Berenang berjam-jam pun nggak kerasa. Kerasanya tuh pas udah di kasur, badan jadi pegel-pegel karena lama nggak olah raga.




Makan gudeg ter-enak di Jogja

Jogja itu terkenal dengan gudegnya, kalau berkunjung ke Jogja harus banget makan gudeg. Kebanyakan gudeg Jogja itu manis banget. Telur aja sampe ke kuningnya tuh rasanya manis. Nah gudeg itu biasanya terdiri dari sayur nangka, krecek dan ada pilihan untuk lauknya, biasanya ayam atau telur.

Kemarin saya dapat rekomendasi dari mertua, katanya mau makan Gudeg Mbah Lindu. Beberapa tahun saya kuliah di Jogja, nggak pernah denger nama gudeg ini, tapi kata mertua gudeg ini udah ada dari dulu.

Yaudah, kita ikuti.

Setelah keliling di Malioboro nggak nemu juga. Ternyata lokasinya di gang pertama sebelah kanan ketika kita memasuki jalan Malioboro. Nah tinggal jalan lurus, terus di sebelah kiri, di pinggir jalan ada tenda yang bertuliskan Mbah Lindu.

Awalnya saya kira mungkin gudeg ini rasanya nggak se-enak Yu Djum. Saya pesanlah satu piring untuk di bagi berdua dengan suami, saya pilih lauk telur. Pas suapan pertama, yaampun, saya langsung jatuh cinta! Gudeng ini nggak begitu manis, gurih dan ada rasa unik di kreceknya. Tekstur kreceknya pun lembut banget dan bumbunya meresap.

Nah gara-gara udah makan gudeg ini nih, jadinya kami dua hari berturut-turut makan gudeg di sini. Rasanya enak banget, dijamin! Sambil ngetik ini sambil ngelap iler deh saking kepengen makan lagi.

Tempat makannya di pinggir jalan, jadi kaya makan cuman di kursi gitu terus piringnya di pegang pake tangan. Bagi yang strict sama kebersihan, mungkin bakal kurang suka. Ya namanya liburan, kadang lokasi makanan khasnya itu selalu di luar ekspektasi.

Saat liburan, jam makan selalu saja berantakan dengan alasan, mumpung disini. Sehingga setiap ada makanan langsung di makan, sementara harusnya ada jeda agar ada sela untuk makan makanan berat. Apalagi setiap makanan yang di temui di jalan rasanya selalu menggoda. Entah yang di jual di pinggir jalan, makanan berkolesterol atau makanan pantangan yang lainnya.

Sebenarnya makan nggak teratur juga bahaya bagi lambung. Misalnya aja mertua saya yang memiliki maag. Paling nggak bisa banget kalo makan nggak teratur atau perutnya kelamaan kosong. Jadi selama liburan saya mewanti-wanti banget jangan sampai Beliau terlewat jam makannya.

Padalah mertua saya itu termasuk banyak sakitnya, ada maag, ginjal dan syaraf terjepit di punggung. Anehnya, meski kegiatan padat, terkena polusi dan aktif di luar, sepanjang liburan penyakitnya nggak pernah kumat. Saya selalu menanyakan kondisi Beliau, apakah sudah lelah, sudah mau pulang atau mau makan? Tapi jawabannya, masih sehat.

Saya pun bertanya, "mam apa sih rahasianya kok masih tetep bugar?".




Liburan #Asiktanpatoxic

Oh ternyata sama. Rahasia dari kondisi yang tetap sehat dan aktif adalah menekuni gaya hidup sehat. Selain olah raga, mama juga memperhatikan setiap makanan yang beliau makan. Salah satu kebiasaan saya dan mama agar tetap sehat dan terhindar dari toxic ketika liburan adalah :
  1. Sarapan buah. Konsumsi buah di pagi hari itu baik untuk tubuh, karena usus bisa menyerap vitamin dengan sempurna saat perut dalam keadaan kosong. Sekarang untuk menemukan buah itu gampang banget. Tempo hari saya beli buah pisang sunpride satuan di salah satu mini market dengan harga sekitar Rp. 4.000,-. Cukup mudah dan murah kan?
  2. Jauhi gaya hidup tidak sehat. Makan fast food, menghirup asap rokok, menghirup udara yang mengandung polusi adalah  hal yang harus di jauhi karena membawa dampak buruk bagi tubuh. Fast food mengandung lemak yang tinggi dan bisa memicu munculnya penyakit jantung, begitu pula asap rokok dan polusi udara. Jadi sebisa mungkin lakukan gaya hidup sehat dan jadikan sebagai bagian dari kebiasaan.
  3. Banyak minum air putih. Tubuh kita ini banyak ditopang oleh air putih, sehingga supply air putih ke tubuh itu harus banyak. Nah salah satu cara untuk mengidentifikasi kecukupan air putih dalam tubuh adalah ketika buang air kecil, cermati warna urine. Kalau berwarna kuning, artinya tubuh kita sangat kekurangan air. Sementara kalau berwarna putih, artinya sudah tercukupi, tapi jangan berhenti minum. Minum yang banyak dan jangan sampai dehidrasi.
  4. Konsumsi vitamin C, seperti yang kita tahu vitamin C sangat berperan penting dalam pemulihan tubuh dari penyakit. Oleh karena itu selalu cukupi kebutuhan vitamin C dari berbagai sumber.
  5. Minum madu dan lemon. Orang bilang, bangun pagi itu harus minum madu dan lemon untuk melunturkan racun dalam tubuh. Lemon dapat mendetoksifikasi racun, sehingga jika kita mengkonsumsinya kita bisa melakukan aktivitas yang #asiktanpatoxic.
Minum madu dan lemon di pagi hari di percaya dapat mendetoks tubuh dari racun. Lemon banyak mengandung vitamin C dan zat antioksidan yang dapat meredakan flu, menjaga daya tahan tubuh hingga memperbaiki sistem pencernaan. Sementara madu  pun bermanfaat untuk meningkatkan sistem imun tubuh, sehingga cocok di konsumsi ketika memiliki kegiatan yang padat dan aktif.

Tubuh kita itu bersifat asam dan basa, kalau terlalu asam, nggak bagus. Begitu juga kalau terlalu basa, maka sifat tubuh harus seimbang. Nah konsumsi madu dan lemon ini bisa membantu menyeimbangkan sifat alami tubuh.

Konsumsi lemon di pagi hari di percaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya penyakit maag. Banyak yang beranggapan bahwa lemon itu asam dan dapat memperparah penyakit maag, tapi meski rasanya asam, sifat lemon sebenarnya adalah basa. Sehingga mampu menyeimbangkan asam dan basa dalam tubuh. Umumnya kalau kita makan sembarangan, sifat tubuh kita bisa menjadi terlalu asam. Nah untuk menetralkannya bisa dengan cara mengkonsumsi lemon dan madu.

Untuk mengkonsumsi madu dan lemon saat kegiatan padat kayaknya PR banget yah. Jadi saya dan keluarga biasanya cukup konsumsi Natsbee Honey Lemon aja. Minuman madu lemon yang sudah berpadu menjadi satu dalam kemasan dan mudah di bawa kemana-mana. Packingnya pun aman sehingga nggak mudah bocor.





Minum madu dan lemon semakin praktis



Natsbee merupakan salah satu produk dari Pokka Indonesia yang di percaya mampu memberikan manfaat madu dan lemon alami pada tubuh. Kandungan Natsbee sendiri sudah sangat lengkap, sesuai namanya; madu dan lemon. Lemonnya berasal dari jus lemon dan madu asli, selain itu Natsbee  juga nggak menggunakan bahan pengawet sama sekali, sehingga konsumsi Natsbee sudah sangat aman.


Dengan Natsbee, konsumsi lemon dan madu jadi lebih mudah dan praktis. Saya nggak perlu repot potong dan peras lemon. Cukup buka tutup botol aja saya sudah mendapatkan manfaat lemon dan madu dengan sangat mudah.

Natsbee mengandung lemon yang berfungsi untuk memperbaiki sistem pencernaan tubuh. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, jika mengkonsumsi lemon di waktu yang tepat bisa membantu kerja sistem pencernaan. Lemon membantu meningkatkan gerakan peristaltik dalam usus, sehingga dapat menciptakan gerakan usus. Lemon membantu tubuh kita untuk dapat menyerap nutrisi secara maksimal sehingga tubuh dapat menyerap lebih banyak nutrisi. Lemon mengandung flavonoid yang dapat membantu asam dalam perut memecah makanan. Sehingga dapat memperbaiki pencernaan secara keseluruhan.


Madu yang terdapat pada Natsbee merupakan madu alam asli jadi nggak mengurangi fungsinya. Madu sendiri berfungsi untuk meningkatkan sistem imun tubuh dengan sifatnya yang anti bakteria, anti jamur dan anti virus.

Vitamin C dalam Natsbee dapat membantu menjaga tekanan darah dalam tubuh. Konsumsi natsbee juga baik bagi orang tua, karena biasanya yang memiliki masalah dengan tekanan darah adalah orang tua. Dengan stabilnya tingkat tekanan darah maka resiko penyakit hipertensi dan stroke memiliki peluang yang lbih kecil.

Natsbee murni tanpa pengawet dan pewarna buatan sehingga aman bagi kesehatan, meminimalisir munculnya zat karsinogen. Zat karsinogen dapat menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat dalam sel tubuh, bila zat ini mengendap maka dapat merusak paru-paru dan menyebabkan kanker. Maka penting untuk kita menjauhi makanan yang mengandung pewarna dan pengawet buatan.

Dengan mengkonsumsi lemon dan jeruk melalui Natsbee, hal ini dapat merubah paradigma kita bahwa meminum lemon dan madu dalam satu waktu itu sulit. Kini konsumsi lemon dan madu lebih mudah dengan Natsbee, semudah tinggal membuka tutup botol aja. Nggak perlu ngilu duluan ngebayangin minum lemon yang asem.





Membuang racun dalam tubuh

Stress, gaya hidup yang kurang baik dan polusi dapat berdampak buruk bagi tubuh. Tanpa kita sadari, setiap harinya banyak polutan yang kita hirup. Biasanya, setelah mengkonsumsi Natsbee tubuh menjadi segar kembali karena Natsbee membuang zat-zat yang tidak baik. Natsbee madu dan lemon mengikat zat-zat buruk yang tidak diperlukan oleh tubuh dan membuangnya melalui urine dan keringat.



Selama liburan dan aktif di luar rumah, saya selalu memperhatikan kesehatan. Untung saya tetap #asiktanpatoxic karena semua racun dalam tubuh dibuang dengan rutin minum Natsbee. Bersihkan hari aktifmu dari polusi, stress, dan gaya hidup tidak teratur dengan Natsbee Honey Lemon.


No comments:

Powered by Blogger.